Ada Kehangatan di Pasar Daya

Patung Ayam Di Pasar Daya Lama Sumber : Dok Pribadi
Patung Ayam Di Pasar Daya Lama
Sumber : Dok Pribadi

“Ayah, ikut”, teriakan Yazid memecah kesunyian di pagi itu. Saya memiliki kebiasaan berbelanja kebutuhan dapur di salah satu pasar Tradisional dekat pemukiman kami, namanya Pasar Daya, dan kali ini Yazid (5 tahun) bersemangat ikut bersama saya menjelajahi pasar di Pagi Buta. Kebiasaan ini umumnya saya lakoni di akhir pekan (sabtu/minggu) dan tidak setiap pekan Yazid bersemangat untuk ikut ke pasar.

Pasar daya yang saya maksud adalah pasar tradisional yang berada di kawasan Pusat Niaga Daya (Baca : Pasar Daya Baru), di sekitar kawasan Terminal Regional Daya Kota Makassar, bukan pasar daya lama yang berada di sekitar patung Ayam. Meskipun Pusat Niaga Daya memiliki pasar modern, akan tetapi saya lebih memilih berburu kebutuhan di Pasar Tradisional.

Terdapat beberapa alasan mengapa saya lebih memilih pasar daya baru ketimbang pasar daya lama, antara lain, pasar daya baru memiliki tempat parkir yang lebih luas, variasi bahan makanan yang dijual jauh lebih beragam, harga cenderung lebih murah dibanding pasar daya lama, dan kondisi pasar saat ini, khususnya penjual ikan jauh lebih nyaman, lebih bersih dan tertata rapih.

Biasanya, saya sudah memiliki daftar belanja sebelum ke pasar dan sudah mengantongi urutan bahan makanan yang akan saya beli. Tempat penjual sayur merupakan tempat yang paling pertama saya jelajahi, alasannya karena sayur relatif ringan, sehingga tidak membebani tangan saat berkeliling memilih bahan makanan selanjutnya. Berikutnya ialah tempat penjual tomat, tahu, tempe, ikan dan ayam.

Berikut beberapa informasi yang perlu anda ketahui saat berbelanja di Pasar Daya Baru

1.       Jika anda membeli ikan, anda bisa meminta kepada penjual untuk membersihkan sisik ikan dan memotong ikan sesuai dengan kebutuhan anda. Sehingga anda tidak perlu repot membersihkan ikan saat tiba di rumah, cukup ikan dicuci lalu diolah sesuai kebutuhan.

2.       Satu ikat/buah sayur  seperti bayam, kacang panjang, kangkung, labu kuning, jagung kuning, umumnya memiliki harga yang sama yaitu Rp. 2.000,-, akan tetapi anda bisa menawar menjadi Rp. 5.000,- untuk tiga jenis sayur yang berbeda, misalnya satu ikat bayam+kangkung+kacang panjang dengan harga Rp. 5.000,-

3.       Berbeda dengan tomat, harga tomat sangat fluktuatif jadi sebaiknya anda mengecek harga ke beberapa penjual sebelum anda memutuskan untuk membeli tomat, jika harga tomat saat itu seragam, maka lebih baik anda membeli tomat dalam satuan kilogram dari pada membeli tomat yang disimpan di dalam wadah piring.

4.       Bagi anda penikmat tahu dan tempe, Pasar daya Baru juga menyediakan makanan yang kaya gizi tersebut. Anda bisa membeli tahu+tempe hanya dengan harga Rp. 5.000, atau kalau lagi berkantong tebal bolehlah sekali-kali membeli tahu+tempe dengan harga Rp. 10.000.

5.       Ayam potong ras juga bisa anda jumpai dipasar ini. Selama ini, harga ayam per ekor sekitar Rp. 42.000 – Rp. 50.000, tergantung ukuran ayam.

6.       Bagaimana dengan daging sapi?, maaf, selama saya keluar masuk pasar ini, saya belum pernah sekalipun membeli daging sapi, entahlah mengapa saya tidak tertarik mengonsumsi daging sapi, mungkin karena harganya yang relatif mahal.

7.       Ohh iya, di pasar ini juga terdapat bocah-bocah yang menawarkan jasa mengangkat barang belanjaan pembeli dan biasanya mereka meminta imbalan seikhlasnya. Saya hampir tidak pernah menggunakan jasa mereka, saya hanya membeli kantong plastik yang berukuran cukup besar yang mereka jual dengan harga Rp. 1.000,-.

Setelah semua bahan makanan yang terdapat di daftar belanja tuntas terbeli, saya dan Yazid meninggalkan Pasar dengan menggunakan sepeda motor butut kami. Di tengah perjalanan, Yazid membukan percakapan.

“Ayah, masih ada sisa uang kah?” pancing Yazid.

“Masih ada nak, memang kenapa?” Tanya saya singkat.

“tidak ji, kalau bisa, Yazid mau beli mainan”

“ah…. Mainana lagi?” mhh… sepertinya ini alasan utama kenapa Yazid bersemangat menemani saya ke Pasar, ternyata ada maunya, kata saya dalam hati.

“Baiklah nak, yazid mau mainan apa?”

“Mainana sembarang saja ayah, jangan mi yang mahal” bujuk Yazid.

“baiklah….kita singgah di toko mainan”

Sesampai di rumah Yazid sibuk dengan mainan barunya, istri saya sibuk membenahi bahan makanan yang sudah kami beli dan saya duduk manis di depan TV menikmati segelas teh hangat ditemani buruncong panas yang saya beli di pasar.

Terima kasih Ya Allah atas anugrah Mu hingga saat ini. Salam sehat.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*