Berdayakan Keluarga Buruh Migran

Saya bukan aktivis buruh migran, dan juga bukan pengamat buruh migran, akan tetapi melaui tulisan ini saya ingin berbagi informasi buat aktivis buruh migran dan buruh migran itu sendiri. Pengetahuan saya tentang buruh migran masih sebatas apa yang muncul di media massa seperti kurangnya keterampilan, penyiksaan dan eksploitasi oleh penyalur dan majikan. Tetapi ternyata kondisi tersebut hanya satu dari sekian banyak persoalan yang melingkupi buruh migran, saya terpapar dengan sebuah fenomena yang tidak kalah menariknya ketika kami melakukan study lapangan di salah satu Kecamatan di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Meskipun responden kami ketika study lapangan tidak dikhususkan untuk keluarga buruh migran, akan tetapi dari data yang kami kumpulkan, fakta bahwa keluarga buruh migran itu miskin, akses terhadap pangan rendah serta anak-anak mereka mengalami gizi buruk benar adanya.

Kalau kita menyimak aktivitas pendampingan buruh migran di media massa, umumnya masih fokus terhadap bagaimana menyiapkan buruh migran agar dapat menjalankan tugas dengan baik di Negara tujuan, sementara keluarga yang ditinggalkan sama sekali tidak tersentuh dengan program pemberdayaan (mohon diluruskan jika anda memiliki info yang berbeda). Beberapa bentuk pemberdayaan yang bisa diberikan kepada keluarga buruh migran yang ditinggalkan, khsusunya di bidang gizi antara lain :

Memberi pemahaman tentang pentingnya makanan bergizi buat anak

Pemahaman tentang makanan bergizi sangat penting dimiliki oleh keluarga karena dengan modal tersebut mereka bisa memastikan bahwa anak-anak mereka terpenuhi kebutuhan gizinya. Paling tidak pengetahuan yang harus mereka miliki adalah makanan bergizi pada anak mulai umur 0-2 tahun. Mengapa sampai umur 2 tahun?, karena umur ini dikenal sebagai “Window of opportunity” pada anak, yaitu sebuah masa dimana anak harus terpenuhi kebutuhan gizinya secara optimal, karena perkembangan otak, fisik dan psikis terjadi dengan cepat pada masa ini dan sifatnya “irreversible” (tidak bisa kembali), hal tersebut juga yang menyebabkan mengapa banyak anak yang mengalami masalah gizi sangat pada usia-usia ini, karena tidak optimalnya asupan gizi pada usia 0-2 tahun.

Memberi keterampilan tentang cara mengolah sumberdaya pangan local menjadi makanan yang bergizi buat anak

Prinsip dasar bahwa gizi itu tidak mesti mahal harus ditanamkan pada keluarga yang ditinggalkan, fenomena susu formula misalnya, banyak keluarga yang menganggap bahwa susu formula merupakan makanan yang paling sempurna, sehingga berapapun harganya mereka pasti membelinya, masalah kemudian muncul karena alasan hemat, maka susu formula yang diberikan kepada anak dibuat dengan pengenceran yang tidak sesuai dengan takaran, prinsip mereka yang penting warnanya putih, setengah sendok makan susu formula diencerkan dengan 200 ml gelas air panas, sebuah praktek yang sangat keliru dan umum kita jumpai di masayarakat.

Mereka tidak mengetahui bahwa banyak makanan yang padat gizi disekitar mereka yang bisa diolah menjadi makanan yang berkualitas buat anak mereka, tidak mesti susu formula atau makanan kemasan lainnya, yang dibutuhkan hanya sebuah pendampingan dan mengarahkan mereka untuk melihat sumberdaya pangan local yang bisa dimanfaatkan sebagai makanan padat gizi. Salah satu contoh untuk mengatasi masalah makan pada anak umur 0-6 bulan adalah mereka bisa mencari “Ibu susu” dari keluarga atau tetangga yang masih memproduksi ASI (air susu ibu).

Siapa yang harus dilibatkan?

Pihak-pihak yang harus dilibatkan dalam program pemberdayaan ini, antara lain, suami atau istri yang ditinggalkan, orang tua atau mertua, anggota keluarga lainnya serta tetangga. Merekalah yang memiliki peran yang strategis ketika suami atau istri menunaikan tugas di Negara tujuan. Tanggungjawab ini tidak harus dilimpahkan sepenuhnya ke Pemerintah, ini menjadi tanggungjawab bersama kita sebagai warga Negara atau sebagai makhluk social di muka bumi ini.

Jika sekiranya di luar sana ternyata sudah ada lembaga yang melakukan aktifitas tersebut, saya ucapkan salut dan selamat buat mereka atas pengabdiannya.

Semoga bermanfaat, Salam Gizi, Salam Buruh Migran Indonesia

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*