Ibu, Sudahlah, Istirahatlah

Saya anak ketiga dari enam bersaudara. Ayah saya seorang petani yang sekarang banting pekerjaan ke usaha perkebunan, itupun lebun milik orang lain. Ibu, adalah ibu rumah tangga tulen yang selalu setia menemani ayah kemana ayah pergi.

Sudah hampir 3 bulan saya tidak berjumpa dengan ibu, karena beliau menemani ayah saya di sebuh kebun di pelosok sulawesi tengah sana. Percakapan melalui handphone hanya menyisakan rindu yang semakin berat.

Saya rindu dengan masakannya, saya rindu dengan perhatiannya, saya rindu dengan obrolon tentang masa depan saya. Jika dia mengabarkan bahwa ia akan balik ke rumah Di Maros-Sulawesi Selatan, maka semua agenda saya akan saya batalkan. Saya sengaja melaungkan waktu untuk ibu, menumpahkan rasa rindu yang menggunung.

Setiap perjumpaan dengan ibu, saya selalu meminta beliau agar membujuk ayah untuk istirahat saja, biar kami anak-anak mu yang mengurus, cukuplah engkau menikmati masa tua dengan nyaman di rumah.

Tapi, ibu saya adalah generasi langka, generasi yang mewarisi semangat orang bugis makassar yang pantang pensiun sampai nyawa terpisa dari tubuh. Dan saya cuma bisa berdoa di setiap akhir shalat dan ketika hujan mulai turun membasahi bumi.

Ya Allah, berilah kesehatan dan kekuatan kepada orang tua saya, jagalah dia sebagainana ia menjaga kami sewaktu kami kecil dulu.

Ibu, ku rindu masakan mu, ku rindu nasehat mu.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*