Ketika Baco Dikudeta Oleh Baddu

12814743_10205769928434935_572720601268701266_n

Sebut saja namanya “Baco”, seorang bocah laki-laki berusia sekitar 11 atau 12 tahun, tubuhnya gempal dengan rambut sedikit pendek. Hampir setiap jumat saya duduk berdampingan dengan dia di Masjid, tepatnya di baris ke empat atau kelima sebelah kiri tepat dekat pintu masuk Masjid, yang menarik ialah ia selalu duduk di pinggir merapat ke tembok.

Baco tidak seperti anak-anak pada umumnya kalau berada di masjid, dia memilih untuk duduk, diam dan mengikuti seluruh rangkaian Jum’atan hingga selesai, sementara anak-anak seusianya memilih untuk bermain, berlari bahkan menerbangkan pesawat kertas yang mereka buat dari buletin jumat yang diletakkan oleh pengurus Masjid dekat pintu masuk.

Akan tetapi hampir dua bulan terakhir ketenangan Baco terusik, adalah seorang lelaki tua sebut saja namanya “Baddu” usianya sekitar 60 tahun, rambutnya mulai memutih, menggunakan songkok haji berwarna putih dengan baju koko dan sarung yang sedikit lusuh.

Baddu sering terlambat datang ke Masjid, biasanya khatib sudah di atas mimbar baru ia tiba sehingga ia harus memutar otak untuk memperoleh tempat duduk di dalam Masjid karena sebagian besar shaf sudah dipenuhi oleh jamaah.

Kalau situasinya sudah seperti itu, maka Baco selalu menjadi sasaran, ia dipaksa oleh baddu berpindah dari posisinya dengan cara lengannya ditarik, dan kalau sudah seperti itu maka giliran Baco yang kebingungan mencari tempat duduk. Pernah suatu hari Baco sedang tertidur saat Baddu memasuki Masjid, butuh waktu yang cukup lama bagi baddu membangungkan Baco, saya yang berada di belakang Baco sedikit agak terganggu dengan prilaku Baddu, tapi saya memilih diam karena Khatib sedang di atas mimbar.

Beberapa kali saya mendengar Baddu bergumam ketika mengkudeta tempat duduk si Baco, katanya “anak-anak tidak boleh duduk di shaf depan, anak-anak duduknya di belakang”. Padahal Baco datang lebih awal dan sudah duduk di shaf  keempat atau kelima, paling pinggir sehingga tidak menganggangu susunan shaf jamaah.

Peristiwa tersebut terus berulang, hingga pada akhirnya saya tidak pernah lagi melihat Baco duduk di posisi favoritnya ia mengalah dan memilih duduk di barisan paling belakang meskipun ia datang lebih awal jauh sebelum khatib naik ke mimbar dan seperti jum’at-jum’at kemarin Baddu masih saja terlambat dan mungkin berharap Baco masih duduk di sana dan ia bisa menyingkirkan seenaknya.

Yaaa…. begitulah nasib si Baco semoga dia tidak trauma datang ke Masjid dan menganggap peristiwa tersebut sebagai proses pembelajaran hidup.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*