Manusia Bugis di Tudang Sipulung

Saya telat tiba di sebuah acara yang telah saya agendakan beberapa hari sebelumnya gara-gara salah persepsi soal lokasi acara. Setelah mutar beberapa kali, akhirnya saya menemukan lokasi acara. Sepertinya acara sudah berjalan beberapa menit, karena pembicara pertama sudah menutup pembicaraannya.

Kegiatan ini bertema Tudang Sipulung, Membincangkan Manusia Bugis yang diselenggarakan oleh Komunitas Blogger Makassar. Acara ini menghadirkan 2 pembicara yaitu Bapak Rahman Abu (Salah satu penerjemah Manusia Bugis) dan Bapak Nurhady Sirimorok (Peneliti dan Penulis Makassar). Acara ini dilaksanakan di Kedai Pojok Adhyaksa Makassar, tanggal 30 September 2014 Pukul 18.00 Wita.

Bicara tentang buku Manusia Bugis, saya pernah memiliki 2 buah buku tersebut, tapi semuanya belum kembali, entah siapa yang meminjamnya, dan sialnya, saya belum pernah menuntaskan membaca buku tersebut. Itulah kemudian, mengapa saya bersemangat hadir di acara tersebut, disamping ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya sosok Christian Pelras menurut orang yang pernah dekat dengan beliau dan juga saya ingin mengklarifikasi beberapa pertanyaan kepada salah seorang penerjemah buku tersebut.

Karena telat, saya hanya bisa mendengarkan uraian dari pembicara kedua, Kalau tidak salah tebak namanya Bapak Rahman Abu, heheh…. Soalnya saya terlambat. Beliau banyak mengulas tentang pengalamannya berinteraksi Christian Pelras, Penulis Buku The Bugis (Manusia Bugis), ia mengatakan bahwa Pelras menganggap bahwa orang bugis itu baik hati, buktinya ialah ketika Pelras melakukan penelitian di beberapa wilayah orang Bugis, tidak ada satupun tuan rumah yang mau menerima bayaran dari Pelras, bahkan pernah suatu hari Pelras sengaja meninggalkan uang yang disimpan di dalam amplop dan ketika tuan rumah melihat amplop tersebut, ia mengejar Pelras dan mengembalikan amplop tersebut.

Pelras juga menganggap bahwa orang bugis itu “Pemalas”, pemalas yang dimaksud oleh Pelras ialah orang Bugis pintar menikmati hidupnya. Ketika mereka sudah memperoleh hasil dari usaha yang mereka lakukan, mereka memilih diam, tidak bekerja lagi dan memilih menikmati hasil usahanya.

Lebih lanjut, pembicara kedua menguraikan bahwa secara kultur, orang Bugis sesungguhnya lebih dekat dengan orang Toraja daripada orang Makassar, itulah kemudian kita bisa menemukan ada banyak kosa kata Bugis mirip dengan kosa kata Toraja.

Kesulitan yang dialami oleh Penerjemah ialah banyak kosa kata bahasa inggris dan bahasa bugis yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga membutuhkan usaha yang ekstra keras untuk memecahkan persoalan tersebut. Misalnya bagian-bagian pada alat penenun kain atau bagian-bagian sebuah kapal.

Kedua pembicara sepakat bahwa Pelras merupakan pribadi yang hangat, ketika beliau memutuskan untuk Ke Makassar untuk menuntaskan proses penerjemahan bukunya, ia minta untuk dicarikan penginapan yang murah dan bersih serta tidak menggunakan pendingin udara. Disisi lain, Pelras juga sangat menghargai pendapat orang-orang yang ada disekitarnya tanpa melihat latar belakang pendidkan orang tersebut.

Pada sesi diskusi, saya mencoba meminta klarifikasi tentang beberapa hal kepada kedua pembicara. Pertanyaan saya yang pertama ialah apakah Pelras mengurai secara detail tentang perbedaan atau persamaan antara pola hidup orang bugis yang tinggal di sebuah wilayah yang dominan orang bugis seperti Kab. Soppeng, Wajo, Bone, Sinjai, dll dengan orang Bugis yang tinggal di wilayah yang heterogen seperti di Kab. Maros, Pangkep, dll.

Kedua pembicara merespon bahwa Pelras tidak melihat pola hidup orang-orang bugis yang tinggal di wilayah yang heterogen, hal tersebut disebabkan karena trend penelitian pada saat itu ialah focus pada satu etnik. Setelah Pelras menuntaskan penelitiannya, baru muncul beberapa penelitian yang melihat sebuah suku yang bermukim di wilayah yang heterogen.

Pertanyaan saya yang kedua ialah, apakah Pelras mengulas praktek pemberian makan pada orang-orang bugis? Misalnya, cara menyusui, atau makanan yang diberikan kepada anak pertama kali, dll.

Pembicara kedua menyatakan bahwa Pelras tidak mengulas hal tersebut, dan dipertegas oleh pembicara kedua bahwa penelitian tentang praktek pemberian makan pada orang bugis lebih banyak didalami oleh orang-orang Sosiologi daripada orang-orang Antropologi,dan itu kemjdian mengapa di dalam buku ini tidak terdapat informasi tentang hal tersebut.

Meskipun durasi acaranya cukup singkat dan saya datangnya telat, tapi saya sangat senang hadir di acara tersebut. Ku habiskan jus jeruk yang ada di atas meja dan saya pamit pulang ke Penyelenggara kegiatan, semoga bulan depan topiknya lebih menarik.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*