Masa Depan Kelam Bocah Penderita AIDS

Foto si Anak sudah kami samarkan
Foto si Anak sudah kami samarkan

Pagi ini (7/5/15) terjadi perbicangan yang hangat di Facebook perihal Surat Kabar yang menurunkan berita tentang seorang Bocah yang menderita AIDS, yang menarik dari pemberitaan tersebut ialah ternyata identitas si Anak di tulis secara detail sehingga mengundang perdebatan.

Saya juga tidak habis pikir, entah apa yang ada di benak si Wartawan ketika menulis berita di atas, saya bukan wartawan dan saya tidak tahu seperti apa kodek etik jurnalistik tapi saya pernah aktif disebuah organisasi yang bergerak di bidang advokasi pendidikan sebaya HIV/AIDS sekitar tahun 1998-2001 dan saya paham betul bagaimana penderitaan saudara-saudara kita yang terjangkit virus HIV.

Disisi lain dia harus berjuang melawan serangan virus mematikan itu dan disaat yang sama harus menutup rapat perihal penyakit yang dia derita dari warga sekitar, karena jika warga mengetahui bahwa dia menderita HIV/AIDS maka pengusiran dan diskriminasi akan menimpanya.

Sekitar pertengahan tahun 2000, ketika itu saya masih semester 3 di salah satu Perguruan Tinggi di Makassar. Kami menyelenggarakan sebuah seminar dengan tema terapi Diet bagi Orang yang Hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pada saat itu kami memutuskan untuk menghadirkan ODHA agar mereka bisa berbagi cerita dengan peserta seminar. Setelah bertanya ke sana ke mari akhirnya kami menemukan pasangan ODHA di sebuah Pesantren yang ternyata tidak jauh dari kampus kami, dan mereka memutuskan untuk hadir bersama dengan seorang Ustadz pembina.

Pada saat pelaksanaan seminar, salah seorang dokter yang menjadi narasumber menegur kami, menurut beliau menghadirkan ODHA di tengah keramaian itu tidak etis apalagi dia hadir tanpa penutup wajah. Nah, setelah itu kami rapat dadakan antara panitia inti, narasumber, ODHA dan Ustadz pembimbing.

Di pertemuan dadakan tersebut saudara kami yang ODHA menyatakan tidak keberatan jika tidak menggunakan penutup wajah karena saat ini dia sudah merasa nyaman tinggal di pesantren dan tidak takut lagi dengan perlakuan diskriminasi orang-orang yang tidak paham di luar sana.

Pada sesi dialog dengan ODHA beliau menjelaskan bahwa mereka sudah puluhan kali berpindah tempat dan mencoba berbagai macam profesi sekedar untuk menyambung hidup. Mereka pindah bukan karena keinginan mereka akan tetapi karena diusir oleh warga. Mereka tidak habis pikir setiap pindah ke tempat yang baru selalu saja ada orang yang membocorkan identitas mereka. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang Ustadz dan meminta mereka untuk tinggal di Pesantren hingga saat pelaksanaan seminar tersebut.

Nah kembali ke topik Bocah Penderita AIDS yang dimuat di salah satu surat kabar

Apa yang dilakukan oleh oknum wartawan itu diluar akal sehat saya, bagaimana mungkin seorang wartawan menuliskan identitas si anak secara detail mulai dari foto, nama lengkap dan tempat sekolah bahkan alamat tempat tinggal si anak. Sialnya, berita tersebut juga memiliki versi digital, berita si anak juga ditulis di website resmi koran tersebut. Meskipun link nya sudah dihapus akan tetapi kita masih bisa membuka arsip beritanya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib si anak dan keluarganya, dan diskrimiansi yang dialami oleh narasumber kami di seminar tersebut sepertinya akan menghantui mereka khususnya si anak, dan orang yang paling bertanggungjawab atas perlakuan tersebut ya si oknum wartawan itu. Tindakan Wartawan itu tidak boleh dibiarkan, saya mendukung jika Dewan pers harus segera turun tangan.

Salam Sehat.

Berita Versi Digital
Berita Versi Digital
Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*