Memahami Penyebab Masalah Gizi

Sumber : http://www.kbknews.id/

Jika kita merujuk ke conceptual framework penyebab masalah gizi yang dikembangkan oleh Unicef pada tahun 1990, maka dapat difahami bahwa penyebab langsung dari gizi kurang/buruk adalah rendahnya asupan dan kejadian penyakit infeksi, penyebab tidak langsungnya ialah ketersediaan makanan di tingkat rumah tangga, pola asuh, pelayanan kesehatan serta sanitasi lingkungan, sedangkan kemiskinan merupakan akar masalah dari gizi kurang/buruk, dengan demikian cukup sulit untuk memastikan bahwa kemiskinan berkorelasi positif dengan kejadian gizi kurang/buruk.

Para penggiat gizi juga mengenal istilah Positive deviance atau penyimpangan positif, jika diterjemahkan secara bebas, maka penyimpangan positif dapat berarti sebuah keluarga miskin secara ekonomi tetapi memiliki balita dengan status gizi baik. Padahal secara teori harusnya status gizi balita keluarga tersebut kurang/buruk karena akses mereka terahadap bahan makanan terbatas sehingga tentu saja asupannya akan rendah, tetapi ternyata tidak, justeru status gizi balitanya baik, inilah yang disebut menyimpang secara positif.

Pertanyaannya kemudian ialah bagaimana keluarga itu bisa menyimpang secara positif?. Bisa jadi keluarga tersebut miskin tetapi mereka bisa memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, seperti memanfaatkan pekarangan dengan menanam sayur, buah, beternak ayam atau itik. Rutin memeriksakan kesehatan anaknya di Posyandu serta telaten menjaga kebersihan diri anaknya seperti rutin memotong kuku, mandi dan mencucui tangan menggunaan sabun. Atau mungkin keluarga tersebut memiliki praktik cerdas lainnya yang berhubungan dengan pola asuh dan pemberian makan pada balitanya yang tidak dilakukan oleh keluarga miskin lainnya.

Praktik-praktik cerdas dari keluarga penyimpang positif ini sangat perlu ditemukan oleh tenaga gizi lalu menularkan ke keluarga-keluarga lainnya yang ada di wilayah tersebut.

Kejadian gizi kurang/buruk tidak selalu terjadi di usia balita, bisa jadi sudah mulai terbentuk sejak masih di dalam kandung, dimana asupan zat gizi ibu saat mengandung tergolong rendah sehingga mempengaruhi pertumbuhan janin yang dikandungnya.

Bahkan hasil penelitian terbaru mengatakan bahwa ibu hamil yang memiliki status gizi kurang serta asupan zat gizi yang rendah akan menyebabkan masalah gizi pada anak yang dikandungnya bahkan hingga 2 generasi berikutnya (cucu dan cicitnya). Jika hal tersebut terjadi maka keluarga tersebut akan terus mengalami masalah gizi serta potensi kemiskinan yang berkepanjangan

Saat ini tidak ada alasan sebuah keluarga tidak bisa berobat atau ke pelayanan kesehatan karena alasan tidak mampu membayar. Sebelum era JKN atau BPJS, sudah ada program kesehatan gratis yang canangkan oleh Gubernur Provinsi Sulsel, hanya dengan modal surat keterangan tidak mampu dari kepala Desa atau Lurah, keluarga tersebut sudah bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan secara gratis.

Apalagi di eara JKN/BPJS, keluarga miskin semakin terbantu, oleh karena itu tenaga gizi dan tenaga kesehatan lainnya harus mampu memfasilitasi keluarga miskin agar memiliki kartu BPJS, tentu saja mereka masuk dalam kelompok Penerima Bantuan Iuran Jaminan kesehatan, dimana keluarga tersebut tidak perlu membayar iuran BPJS tiap bulan.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kondisi tersebut di atas, maka dibutuhkan kerjasama lintas program dan lintas sector. Masalah gizi tidak boleh hanya menjadi konsen orang-orang gizi tetapi juga menjadi bahan pemikiran program lain seperti Dokter, Bidan, Promkes, dll serta sector diluar kesehatan seperti pemerintah setempat, BKKBN, Pertanian, Pendidikan, tenaga kerja, dll.

Perlu diingat bahwa program kesehatan termasuk gizi di dalamnya hanya mampu menyumbang 30% penyelesaian masalah sedangkan 70% sisanya dipengaruhi oleh sekor non kesehatan. Intervensi sektor kesehatan dikenal dengan istilah intervensi spesifik, Kegiatannya antara lain berupa imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu dan sektor non kesehatan dikenal dengan istilah intervensi Sensitif, Kegiatannya antara lain penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender. Hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan program non kesehatan sangat penting untuk mengatasi masalah gizi balita di masyarakat.

Salam sehat.

*) Tulisan ini dibuat untuk menaggapi artikel di http://www.kbknews.id

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*