Mengenang 100 Hari Kanda Asdar Muis

asdar muis

“Kematian itu pasti menyenangkan, buktinya tidak ada satupun orang yang kembali dari kematian” (Asdar Muis, 2014)

 

Sekitar Bulan Juni 2014, saya mengundang Kanda Asdar Muis (Alm) ke kampus untuk berbagi tentang teknik penulisan kepada mahasiswa saya yang saat itu sedang menyusun proposal tugas akhir.

Ketika itu beliau tampil tidak seperti biasanya, menggunakan celana panjang dengan baju kemeja lengan pendek yang tidak dikancing. Ketika saya menjemput di parkiran dengan suara khasnya beliau bercerita bahwa pagi ini telah terjadi kekacauan di rumah karena orang di rumah tidak menemukan celana panjang yang akan saya gunakan pagi ini. “Saya harus tampil rapi di acaramu Manji”, ujar beliau. “kenapa harus begitu kanda, padahal saya sudah sampaikan ke mahasiswa bahwa kanda Asdar akan datang dengan penampilan apa adanya”, balas saya.

Tidak terasa sekitar 2 jam beliau bercerita tentang pengalaman menulisnya serta berbagi tips ke mahasiswa, tapi ada satu ungkapan yang membuat saya merinding ketika itu, beliau bercerita bahwa Dokter sudah memvonis bahwa beliau akan meninggal diusia muda dan menulis merupakan salah satu upaya agar semangat hidup beliau tetap terjaga tapi Kematian itu pasti menyenangkan, buktinya tidak ada satupun orang yang kembali dari kematian.

Kanda Asdar Muis telah meninggalkan kita 100 hari lamanya, meninggalkan jutaan kenangan dan ribuan karya. Sekitar satu bulan sebelum berpulang, beliau meminta agar dikirimkan buah mangga, tapi karena belum ada mangga yang matang jadi saya hanya membalas permintaan beliau dengan sebuah foto buah mangga yang masih terdapat di pohonnya. Satu minggu sebelum berpulang beliau mengimkan kembali pesan “sepertinya ada yang janji buah manggga”, kembali saya membalas bahwa belum ada yang matang.

Malam itu sekitar pukul 23.00 WITA saya masih mengerjakan tugas kantor sambil memantau informasi yang beredar di dinding Facebook. Ketika itu sebuah foto yang dikirim oleh Irma terlihat Kanda Asdar terbaring di tempat tidur di sebuah Rumah Sakit, saya langsung mengirimkan pesan lewat Facebook ke Irma menanyakan kondisi Bapak dan dijawab beliau masih di UGD, Semoga bapak diberi kesembuhan, menutup perbincangan saya dengan Irma Ketika itu.

Sekitar Pukul 01.00 Wita saya matikan Laptop dan beranjak ke pembaringan, belum lama saya berbaring tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk yang menyampaikan kabar duka bahwa kanda Asdar telah berpulang. Sontak saya bangun dari tempat tidur, lalu membuka Facebook untuk memastikan kondisi beliau dan mengirim pesan ke Irma menanyakan kondisi Bapak.

Dinding facebook saya sudah penuh dengan ucapan bela sungkawa yang menandakan bahwa beliau benar-benar sudah pergi. Saya bangunkan istri lalu saya pamit ke rumah kanda Asdar di Hartaco untuk membantu penyambutan jenazah. Di jalan saya sempatkan membeli air mineral 3 kardus, syukur masih ada toko yang buka. Ketika tiba di rumah Kanda Asdar, rumah tampak gelap, pagar terkunci, hanya ada sekitar 6 orang yang sepertinya mahasiswa beliau yang juga kebingungan apakah jenazah Bapak dibawah ke sini atau ke tempat lain.

Saya mencoba mengirim pesan ke nomor telepon genggam Bapak dan sekitar 30 menit kemudian ada balasan bahwa beliau di semayamkan di rumah mertua. Saya memutuskan untuk kembali ke rumah dan air mineral saya simpan di depan pintu pagar.

Saya tidak bisa tidur malam itu, air mata tidak terbendung, saya terisak disisi istri yang sedang terlelap. Mata saya terus berkaca-kaca hingga 3 hari lamanya, seolah tidak percaya kalau beliau akan pergi begitu cepat.

Selamat jalan kanda, saya tahu engkau bahagia di sana karena terlalu banyak kebaikan yang kamu torehkan di sini. Oh iya, buah mangga yang saya janjikan sudah dinikmati oleh Ibu dan Irma, katanya buah mangga itu kesukaan Bapak.

asdar muis

 

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*