Passangki, Riwayat mu kini

sawah

Kehadiran mesin pemotong padi yang di kampung kami disebut Oto Padderos telah membawa cerita duka bagi Passangki lokal. Pasalnya pemilik sawah lebih memilih menggunakan jasa Oto Padderos ketimbang Passsangki lokal, katanya sih lebih murah, lebih cepat dan hasil panennya lebih banyak.

“Tahun ini saya bisa dapat 72 karung gabah setiap kali panen atau setara dengan 15 juta rupiah, jumlah itu sudah dipotong jasa Oto Paddderos sebanyak 8 karung” ungkap Haji Lolo, salah satu kerabat saya, saat kami sedang menikmati jamuan makan siang di rumah orang tua. “memang biasanya berapa karung?” Tanya saya, “ya kalau menggunakan Passangki saya cuma bisa dapat kurang lebih 50 karung”, jawab dia sambil mengunyah makanan.

Dia kemudian menuturkan bahwa sistem pembagian jasa oto padderos ialah setiap 10 karung gabah keluar 1 karung sebagai jasa, sedangkan kalau Passangki lokal, 8 ember keluar 1 ember. Nah penggunaan ember inilah yang sulit diukur, kadang kita salah hitung dan tidak jarang kita kasi’ lebih-lebih sedikit untuk Passangki, ujarnya.

Kehadiran Oto Padderos sekitar dua tahun terakhir di kampung kami menimbulkan masalah baru, karena dapat menghilangkan mata pencaharian Passangki lokal yang tidak sedikit menggantungkan hidupnya dari hasil Massangki.

“ada kasian salah satu warga di kampung sudah tidak bisa menyekolahkan anaknya gara-gara panen kemarin dia tidak memperoleh gabah yang cukup, karena hampir semua pemilik sawah menggunakan jasa Oto Padderos” urai Kakak Kandung saya. “koq bisa?” Tanya saya, “Iya karena dia tidak memiliki pekerjaan serta tidak memiliki sawah dan hanya menggantungkan hidupnya dari hasil Massangki, gabah yang dia peroleh dari hasil massangki itulah dia jual kalau anaknya butuh biaya sekolah”.

Masalah kemudian semakin pelik karena pemilik Oto Passangki berasal dari Kabupaten lain dan bukan warga setempat, sehingga otomatis hasil yang mereka peroleh mereka bawa ke daerah mereka, dan tidak menyisakan sedikit pun buat Passangki lokal.

Berangkat dari bincang-bincang tersebut, tentu saja yang akan diuntungkan adalah petani pemilik atau penggarap karena hasil panen Oto Padderos terbukti lebih menguntungkan, akan tetapi pilihan itu akan menyisakan duka bagi warga yang selama ini hidup dari hasil Massangki. Mereka akan kehilangan sumber kehidupan, apalagi di kampung kami Petani bisa panen sebanyak 3 kali dalam setahun.

Oleh karena itu, semua pihak yang berkepentingan harus segera duduk bersama untuk membicarakan jalan keluar dari persoalan ini, jangan menunggu hingga terjadi konflik horizontal antara pemilik Oto Padderos dengan Passangki lokal.

———-

Passangki = Bahasa Bugis/Makassar = Orang yang berprofesi sebagai pemotong padi

Massangki = Bahasa Bugis/Makassar = Aktifitas memotong padi

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*