Perjalanan Ke Lakkang, Pengalaman yang Tak Pernah Lekang

Hari minggu kemarin (10 Mei 2015) saya dan Yazid (anak pertama kami) menghabiskan akhir pekan bersama Komunitas Blogger Angingmammiri Kota Makassar di sebuah tempat yang sangat eksotis, orang-orang menyebutnya “Lakkang”, lebih tepatnya Kelurahan Lakkang.

Kelurahan Lakkang merupakan salah satu Kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Tallo posisinya sangat eksotik karena dikelilingi sungai Tallo sehingga tempat ini mirip sebuah pulau, oleh karena itu Lakkang hanya bisa diakses menggunakan perahu atau rakit yang masyarakat Makassar menyebutnya dengan istilah “Katinting”.

Saya tidak memiliki informasi yang cukup apa arti “Lakkang” dan mengapa daerah tersebut dinamakan “Lakkang”, yang jelas ketika saya tanyakan arti kata Lakkang ke beberapa kawan terdapat 2 pengertian yang muncul, pertama menunjukkan bagian tubuh bagian belakang (punggung) dan yang kedua sejenis tumbuhan liar, pengertian mana yang betul entahlah.

Tapi menurut penuturan salah seorang kawan saya, katanya Lakkang berasal dari kata “aklakkang” yang berarti menetap. Konon kabarnya ketika kerajaan Gowa masih berkuasa, kampung Lakkang menjadi tempat persinggahan prajurit Gowa yang akan menyeberang ke Tallo dan sebagian dari mereka ada yang menetap, dari situlah kemudian tempat ini disebut dengan kata “Lakkang”.

Pagi itu kami berkumpul di tepi Danau Universitas Hasanuddin (UNHAS) kemudian bergerak menggunakan sepeda motor ke dermaga kera-kera. Dermaga tersebut terletak di bagian belakang kawasan kampus UNHAS yang merupakan salah satu dermaga keberangkatan menuju Lakkang.

Sesampainya di dermaga, rombongan sudah disambut beberapa perahu yang siap mengangkut kami ke Lakkang. Berhubung kawan-kawan lain belum pada ngumpul maka koordinator acara memutuskan untuk membagi keberangkatan menjadi 2 gelombang dan saya memilih berangkat lebih awal.

Perahu pengangkut cukup unik, terbuat dari dua buah perahu kayu yang disatukan dengan balok dan beralas papan serta dilengkapi dengan atap yang terbuat dari terpal plastik berwarna biru, dan di samping kiri kananya terdapat bangku panjang yang berfungsi sebagai tempat duduk. Perahu ini digerakkan oleh 1 mesin berukuran kecil dengan suara yang melengking, hanya dengan Rp. 3.000 kita sudah bisa tiba di lakkang.

Keunikan lainnya ialah perahu tersebut tidak hanya mengangkut warga akan tetapi juga kendaraan roda dua, terdapat sekitar 3 motor di atas rakit. Perasaan was-was ketika menaiki perahu tidak bisa saya sembunyikan khawatir jangan-jangan perahu akan karam gara-gara muatan yang cukup berat (menurut saya).

Saya langsung tersihir dengan pemandangan di sepanjang sungai, air sungai yang keruh berwarna kecoklatan, sesekali ikan sungai bermulut panjang membuat gerakan-gerakan aneh seolah menggoda kami, biawak yang mencoba menyeberangi sungai juga ikut meramaikan perjalanan kami, hembusan angin yang tidak terlalu kencang serta pancaran sinar matahari yang sangat terik menambah keseruan perjalanan ke Lakkang di pagi menjelang siang itu.

Setelah mengarungi sungai Tallo sekitar 15 menit akhirnya kami tiba di dermaga Lakkang, sebuah dermaga yang sangat unik atapnya berbentuk seperti huruf “V” dan terbuat dari seng sedangkan bangunan dermaga terbuat dari kayu yang cukup kokoh, di sekitar dermaga terparkir beberapa perahu, mirip perahu yang kami tumpangi tadi.

Basecamp acara kali ini ternyata berada di pinggir sungai dekat dermaga, ada 3 bangunan di sana semuanya terbuat dari kayu. Bangunan pertama berukuran sedang berada disebelah kanan dermaga, di bagunan tersebut dijual aneka macam makanan dan minuman mulai yang ringan seperti krupuk hingga yang berat-berat seperti kopi dan mie instant.

Bangunan kedua berhadapan dengan dermaga, ukurannya cukup besar dindingnya sepinggang orang dewasa dan ditengah ruangan terdapat meja dan bangku panjang yang terbuat dari kayu. Bagunan ketiga berada agak jauh dari kedua bangunan sebelumnya, sejajar dengan bangunan pertama dan berdiri di atas empang.

 

Dermaga Lakkang

Setelah ngaso sejenak di bangunan kedua, saya dan Yazid memutuskan untuk masuk lebih dalam ke perkampungan Lakkang, sekedar untuk menyelami lebih dalam suasana lakkang saat itu. Sepertinya warga lakkang sudah terbiasa menerima tamu, buktinya setiap warga yang berpapasan dengan kami selalu melontarkan senyuman dengan bahasa tubuh yang cukup bersahabat.

Perjalanan saya dengan Yazid cukup jauh ke dalam kampung hingga tiba di sebuah kawasan dimana pohon bambu tumbuh dengan sangat lebat, tempat ini lebih cocok disebut dengan istilah hutan bambu. Di dalam kawasan tersebut nampak sisa-sia kegiatan berupa bentangan kain putih yang cukup panjang serta beberapa sisa pembungkus makanan, sepertinya di tempat ini baru saja diselenggarakan kegiatan yang cukup besar.

Di kawasan hutan bambu juga terdapat bunker peninggalan Tentara Jepang, menurut informasi yang kami peroleh ada sekitar 3 buah bungker di kawasan Lakkang dan hanya satu yang masih berbetuk dan bisa ditelusuri sedangkan 2 sisanya sudah tertimbun tanah karena digunakan sebagai tempat sampah oleh warga sekitar.

Karena perut sudah keroncongan saya mengajak Yazid kembali ke basecamp, kali’ aja gelombang kedua sudah tiba dan makanan sudah tersedia. Sesampainya di basecamp ternyata gelombang kedua belum tiba dan satu-satunya makanan yang bisa diasup hanya “Buroncong” (makanan tradisional Makassar), ya sudahlah daripada tidak ada kita asup saja tuh Buroncong.

Beberapa menit kemudian terdengar raungan mesin dari kejauhan dan Nampak samar-samar sebuah perahu tanpa atap mengarah ke dermaga, saya menduga kawan-kawan pasti ada di perahu tersebut. Mhhhh….. saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menaiki perahu tanpa atap dengan sinar matahari siang yang sangat terik.

Setelahkawan-kawan turun dari perahu, tanpa dikomando kami menyiapkan instrumen pembakaran ikan. Selanjutnya kakak Unga memilih untuk membakar ikan sedangkan Kakak Ahmad (Koordinator Blogger Angingmammiri) membuka sebuah diskusi kecil-kecilan di bagunan ketiga, banyak hal yang diperbincangkan di sana mulai dari pengalaman di dunia blog sampai kepada rencana kegiatan selanjutnya.

Sekitar pukul 16.00 WITA kegiatan makan ikan bakar dan bincang-bincangnya selesai dan kami memutuskan kembali ke rumah masing-masing, saya memilih menyeberang lebih awal mengingat hari semakin sore dan Yazid sudah mulai terserang kantuk. Kami kembali ke rumah dengan segudang pengalaman, kawan-kawan baru dan keluarga baru.

Tips ke Lakkang

Bagi anda yang akan ke Lakkang sebaiknya berangkat di pagi hari agar bisa menikmati suasana Lakkang lebih lama. Membawa sepeda, sepertinya Lakkang sangat asik ditelusuri dengan menggunakan sepeda. Membawa alat pancing, anda bisa menghabiskan waktu di Lakkang sambil memacing. Tidak perlu membawa makanan/minuman yang berlebih karena banyak warga yang menjual makanan/minuman dengan harga yang relatif murah.

Kalau ada yang mau ke Lakkang, saya dengan senang hati bersedia menemani.

Salam Sehat.

 Terima kasih kepada :

  1. Komunitas Blogger Angingmammiri Kota Makassar atas jalan-jalannya
  2. Panitia yang telah sibuk menyiapkan perlengkapan ikan bakar, saya janji akan membuat tulisan tentang ini :)
  3. Kanda Eyank, Kanda Etta Adil dan kanda Ipul atas informasi tentang asal usul kata Lakkang

 

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*