Categorized | Artikel Bebas

PERSAGI Menjelang Kongres

Ahad (24/2) saya berkesempatan mengikuti pertemuan dalam rangka persiapan kongres Persatuan Ahli Gizi Indonesia di Jakarta. Acara tersebut dihadiri sekitar 25 utusan DPD dari 33 DPD yang diundang. Dalam arahannya, Ketua Umum DPP Persagi (bapak DR. Minarto, MPS) beliau  menekankan pentingnya memperkuat organisasi profesi ini karena kedepan kerja-kerja profesi semakin berat. Disamping itu, DPP Persagi memiliki mimpi yang cukup mulia, yaitu memiliki gedung sendiri yang bisa difungsikan sebagai Kantor, ruang pelatihan dan wisma.

Acara dilanjutkan dengan pembahasan rencana kongres Persagi yang akhirnya disepakati pada tanggal 7-9 Nopember 2014 di Jogjakarta. Penetapan bulan Nopember bukan tanpa perdebatan, karena pada bulan tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Kesehatan Nasional yang dikhawatirkan akan mengurangi minat kawan-kawan dari daerah untuk mengikuti kongres tersebut.

Penetapan Jogjakarta pun sempat menjadi polemik karena pada kongres sebelumnya di Surabaya, telah ditetapkan Sumatera Utara sebagai lokasi kongres tahun 2014, akan tetapi atas usulan kawan-kawan, khususnya yang berasal dari Indonesia Timur, dimana mereka membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk bisa ke Sumatera Utara, maka DPP meminta keikhlasan DPD Sumatera Utara untuk melapas hak tersebut.

Topik selanjutnya ialah pembahasan tentang anggaran DPP Persagi yang dibawakan oleh ibu Pritasari. Poin penting dari pembahasan beliau ialah beberapa waktu lalu DPP pernah mengirimkan surat edaran ke DPD tentang iuran Persagi yaitu sebesar Rp. 50.000,-/tahun, dengan komposisi pembagian, 70% ke DPC, 20% ke DPD dan 10% ke DPP. Tapi hingga saat ini masih banyak DPD yang belum menunaikan kewajibannya ke DPP.

Ibu Prita juga menjelaskan secara detail jumlah dana yang sudah dikeluarkan oleh DPP dalam proses penerbitan STR ahli gizi yang jumlahnya cukup besar sekitar 100 jutaan. Hal tersebut disebabkan karena anggaran pemerintah dalam penerbitan STR belum turun, sehingga harus di support oleh organisasi profesi terlebih dahulu.

Pertemuan sesi pertama berakhir sekitar pukul 18.30 WIB yang dilanjutkan dengan ISHOMA.

Sesi kedua dimulai sekitar pukul 19.30, dengan pembahasan tentang Sertifikasi ahli gizi, Sistem Kredit Profesi dan RUU Tenaga Kesehatan. Perdebatan yang paling hangat ialah pada Nomenklatur Ahli Gizi. Apakah Nutritionist, Dietisien, RD atau TRD?, akhirnya keputusan sementara ialah sebuatn untuk ahli gizi ialah Nutritionist dan Dietisien, selebihnya akan dibahas di Kongres.

Acara seharusnya sudah berakhir pukul 20.30, karena diskusi yang hangat maka acara ditutup tepat pukul 21.30, diiringi dengan ribuan tanda tanya dan sebuah lagu dari salah satu group band, “…..mau dibawa kemana profesi iniiiiiiii….” Heheh…..

Salam sehat.

8 Responses to “PERSAGI Menjelang Kongres”

  1. Mugniar says:

    DIETISIEN … wah cukup sulit juga pelafalannya. Mending NUTRISIONIS.
    Eh, rupanya kita’ blogger juga ya, blogger Id Blognetwork pula :)

  2. Mugniar says:

    Oya, ttg Kelas Inspirasi Makassar … Kegiatan ini diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia, Pak. Bbrp kota sudah selesai pelaksanaannya, Makassar baru2 ini. Barangkali saja kita’ bisa berpartisipasi jadi salah satu pengajar di tahun depan?

  3. Saya mendukung makin sinerginya PERSAGi dengan AsDI (Assosiasi Dietisien Indonesia).

  4. soeprijono winardi says:

    siip infonya, tks.

  5. makasih infonya.. ijin share y :)

  6. rasikin says:

    gimana kolo konggres persagi disamakan waktunya dengan hari gizi nasional pada bulan januari

Trackbacks/Pingbacks


Leave a Reply

Temukan Literatur


Guarded by Plagiarisma.Net
Internet Sehat Bronze