Ruang Menyusui, Di Mana Kau Berada?

Selasa (27/5) kami sekeluarga (4 orang) termasuk si kecil yang masih berusia 3 bulan, menghabiskan liburan di salah satu mall besar di Kota kami. Dengan mengendarai motor butut kami, cuaca yang sedikit panas kami terobos, dengan satu tujuan, yaitu sampai di Mall dan menikmati segala macam sajiannya.

Sekitar pukul 12.15 wita, kami tiba di lokasi. Setelah motor saya parkir, kami pun menuju Hypermart untuk mencari kebutuhan. Tapi, hanya istri saya yang masuk ke dalam toko. Saya dan Yazid memilih menikmati es krim dan kentang goreng disalah satu gerai makanan siap saji yang terdapat di depan Hypermart. Cukup lama istri saya di dalam toko, sampai Kial (3 bulan) mulai gelisah, tapi syukurlah sebelum Kial mengamuk istri saya juga telah menuntaskan urusannya di toko.

Tapi masalah kemudian muncul saat istri saya ingin menyusui si Kial, ternyata tidak ada fasilitas ruang menyusui di sana, terpaksa istri saya harus mojok di sudut gerai makanan siap saja agar ia bisa bebas menyusui si Kial.

Selanjutnya kami berpindah ke lokasi yang baru. Sasaran kami ialah hunting di toko Matahari. Lagi-lagi, saya, Yazid dan Kial memilih untuk mencari aktifitas lain dan meninggalkan istri sendirian mencari kebutuhannya di Matahari. Sekali lagi, aktifitas belanja istri saya lebih lama dari sebelumnya, Yazid sampai harus bosan main Skuter dan Kial mulai mengamuk. Saya terpaksa memaksa istri saya untuk menuntaskan segera aktifitas belanjanya.

Masalah kemudian muncul saat istri saya mau menyusui, disekitar Matahari lantai 2 sepertinya tdk ada sudut yang nyaman dan bisa digunakan untuk menyusui. Istri saya mengingatkan kalau dulu waktu Yazid masih kecil, sepertinya ada ruang menyusui di lantai satu dekat toilet.

Kami pun bergegas ke lantai satu untuk mencari tempat tersebut, tapi kami kecewa karena ruangan itu sudah tidak ada. Saya lalu bertanya kepada bagian Informasi yg tidak jauh dari toilet itu. Dan petugas itu menyampaikan bahwa ruang menyusui ada di lantai 3 dekat Gramedia. Waduh jauh juga, kalau anda sering ke tempat ini, bisa anda bayangkan jarak dari bagian informasi (dekat hypermart) ke Gramedia. Tapi kondisi itu harus kami lakoni demi si Kial.

Syukur dalam perjalanan ke ruang menyusui Kial malah tertidur, sehingga tangisannya tidak menganggu pengunjung lainnya. Akhirnya kami tiba di ruang menyusui, istri saya memasuki ruang kecil tersebut yang di dalamnya sdh ada satu ibu yang sedang menyusui anaknya. Ruangannya kecil, hanya ada satu sofa kecil di sana, tidak ada fasilitas lainnya.

Setelah aktitas di ruang menyusui itu tuntas, kami menuju ke mushallah di lantai 2 untuk menunaikan shalat Dhuhur yang cukup telat dan memutuskan untuk tetap berada di sana hingga memasuki waktu shalat Adzar.

Setelah kami shalat Adzar, kami menuju ke salah satu gerai makanan untuk santap siang yang tergolong telat. Tiga porsi soto ayam lebih dari cukup mengganjal perut kami yang sudah sangat lapar. Tapi, masalah baru kemudian muncul saat kami hampir menuntaskan santap siang, Kial sepertinya buang hajat. Dan tidak mungkin kami kembali ke ruang menyusui untuk mengganti popok. Istri saya mengusulkan untuk mengganti di dalam stand makanan tempat kami makan soto, tapi saya melarang, karena tidak etis, masa’ ganti popok yang penuh dengan …. Di tempat orang yang lagi makan. Saya tawarkan untuk ke toilet yang ada di lantai 3 dekat Carefour.

Cukup lama kami berdebat, karena istri saya menolak mengganti popok di toilet, karena tidak ada tempat yang tepat di sana. Ia memilih mengganti popok di bangku yang berjejer di depan gerai Carefour, yang saya tolak karena bisa menganggu pengunjung.

Kami kemudian berbagi tugas, saya menemani Yazid hunting mainan dan istri menuntaskan urusan popok. Setelah Yazid menemukan mainan kesukaannya, saya lalu menemui istri saya yang sedang menyusui si Kial di Mushollah dekat Carefour, dan memutuskan untuk pulang ke rumah.

Dalam perjalanan pulang, istri saya bercerita, bahwa ia ke toliet dan bertanya kepada petugas toilet, dimana tempat untuk mengganti popok, dan dijawab tidak tahu oleh si petugas. Akhirnya, istri saya memutuskan mengganti popok di salah satu bangku yang terdapat di depan Carefour. Saya sempat kaget, dan bertanya kepada istri saya, “…bagaimana reaksi orang-orang disekitar bangku….?”, “….tidak ji, malah ada yang membantu saya…” ujar istri saya. Syukurlah kalau begitu.

Lantunan ayat suci mulai menggema di Masjid-masjid saat kami meninggalkan mall tersebut, pertanda sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Saya lajukan motor menembus padatnya lalu lintas Makassar di senja itu. Kembali, pulang ke rumah mungil kami.

*) buat ibu-ibu yang terus berjuang menyusui bayi mereka, salam hormat, kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*