Serunya Pembahasan AD dan ART PERSAGI

Sebenarnya saya tidak bermaksud mengikuti persidangan di Kongres Nasional XV Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) yang berlangsung pada tanggal 25 Nopember 2014 di The Sahid Rich Hotel Yogyakarta. Maksud kedatangan saya ke tempat Kongres hanya untuk memasang makalah poster dan registrasi kegiatan Temu Ilmiah Internasional yg akan dilaksanakan keesokan harinya. Tapi, ketua DPD PERSAGI Prov. Sulsel meminta saya untuk masuk ke komisi A yang membahas AD & ART karena tidak ada perwakilan Prov. Sulsel di sana. Padahal saat itu saya hanya menggunakan kaos oblong dibalut dengan jaket berlogo Universitas Indonesia.

Sekitar pukul 13.00 WIB, saya memasuki ruangan sidang dan disambut oleh seorang ibu yang menyodorkan bahan sidang, untung ibu tersebut mengenal saya karena kami sering bertemu saat pembahasan soal uji kompetensi ahli gizi, sehingga saya tidak perlu direpotkan dengan pertanyaan standar seperti ID card, surat tugas, dll.

Saya kemudian duduk di pojok ruangan sebelah kiri bagian belakang, dismaping saya duduk seorang ibu utusan DPD DKI Jakarta dan disebelahnya seorang bapak dari Bali. Saya memutuskan untuk menjadi pengamat saja karena karena saya tidak memiliki hak untuk berkomentar di sini.

berdasarkan pengamatan saya, beberapa poin penting yang menjadi perdebatan pada pembahasan AD & ART Persagi saat itu ialah

Terjemahan Bahasa Inggris Persatuan Ahli Gizi Indonesia

Pada draft AD & ART, terjemahan bahasa Inggris Persatuan Ahli Gizi Indonesia ialah Indonesian Nutritionist Association. Beberapa peserta Kongres menyarankan untuk menambahkan kata Dietition sehingga terjemahannya menjadi Indonesian Nutritionist and Dietition Association, karena dalam peraturan pemerintah, ahli gizi dikenal dengan istilah Nutritionis dan Dietisien.

Akan tetapi usulan tersebut tidak diterima oleh sebagain besar anggota dengan beberapa alasan, Pertama : masyarakat internasional sudahsejak lama sudah mengenal Indonesian Nutritionist Association sebagai organisasi profesi ahli gizi di Indonesia dan jika dilakukan perubahan terjemahan maka mereka akan mengira ada organisasi profesi yang baru. Kedua : jika dilakukan penambahan Dietition maka terjemahan bahasa Indonesia tidak relevan lagi dan seharusnya menjadi Persatuan Ahli gizi masyarakat dan Dietisien Indonesia. Ketiga : ketika anda memperkenalkan diri ke orang Asing sebagai Nutritionist, mereka akan faham bahwa anda adalah ahli gizi, entah itu bekerja di komunitas, perusahaan dan rumah sakit. Akan tetapi jika anda mmemperkenalkan diri sebagai Dietisien maka mereka langsung menebak bahwa anda bekerja di rumah sakit. Jadi kata Nutritionist sudah cukup untuk menggambarkan ahli gizi secara luasa dalam bahasa inggris

Lambang organisasi

AD & ART belum membahas secara rinci tentang lambang organisasi yang terdiri atas warna, ukuran dan makna. Masih ditemukan di daerah logo organisasi yang beraneka ragam sehingga perlu diatur dalam AD & ART atau di dalam pedoman organisasi, termasuk makna lambang dan mars organisasi serta kartu anggota

Tujuan Organisasi

Tujuan organisasi dibahas di pasal 6 yang terdiri atas empat poin tujuan, poin pertama membahas tentang pengembangan keilmuan, kedua pengembangan profesionalitas anggota, ketiga peningkatan kesejahteraan anggota dan kempat meningkatkan gizi masyarakat.

Pembahasan pasal ini menyita waktu cukup banyak, perdebatannya ialah apakah aspek keilmuan atau aspek pengembangan profesi yang harus di dahulukan dalam pasal tersebut?. Meskipun pimpinan sidang berulang kali menyampaikan bahwa uraian di dalam pasal tersebut bukan urutan skala prioritas akan tetapi hanya sebuah urutan penomoran biasa, akan tetapi tetap saja beberapa peserta sidang tidak menerima penjelasan tersebut. Sehingga sebagai kompromi diputuskan untuk mencantumkan poin pengembangan profesi pada urutan pertama dan keilmuan di urutan kedua.

Beberapa peserta juga menyarankan untuk menambahkan istilah gizi institusi, gizi klinik dan gizi pangan (baca:mutu gizi) pada pasal tersebut karena pada draft AD & ART sama sekali tidak menyinggung ketiga aspek tersebut

Struktur organsiasi

Struktur organisasi PERSAGI pada draft AD & ART, terdiri atas DPP di tingkat Pusat, DPD di tingkat Provinsi dan DPC di tingkat Kabupaten/Kota. Beberapa anggota meminta untuk memunculkan kembali istilah komisariat karena di beberapa wilayahseperti Jakarta dan Jawa barat, anggota cukup sulit berkomunikasi dengan DPC karena jarak yang cukup jauh. Akan tetapi, saran tersebut tidak diterima karena rantai komando organisasi semakin panjang dan membuat birokrasi di organisasi semakin rumit

Keanggotaan

Keanggotaan PERSAGI terdiri atas Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa, anggota biasa ialah ahli gizi (Nutrisionis dan Dietisien). Sedangkan anggota luar biasa ialah sarjana disiplin ilmu lain yang terkait gizi yang berminat menjadi anggota, termasuk di dalamnya Sarjana Pembantu Ahli Gizi (SPAG), Sarjana Kesehatan Masyarakat peminatan gizi, dll.

Pembahasan pasal keanggotaan memunculkan perdebatan yang cukup panjang khususnya istilah Nutrisionis dan Dietisien, sehingga peserta sidang diminta untuk membuka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi. Pada Permenkes tersebut tercantum bahwa yang dimaksud dengan tenaga gizi ialah setiap orang yang telah lulus pendidikan di bidang gizi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Jika tenaga gizi diklasifikasikan berdasarkan pendidikannya, maka tenaga gizi terdiri atas Pertama : Lulusan Diploma 3 gizi yang telah lulus uji kompetensi dan memiliki STR yang selanjutnya disebut dengan istilah Technical Registered Dietisien (TRD), kedua : Lulusan Diploma 4 gizi dan S-1 gizi yang telah lulus uji kompetensi dan memiliki STR yang selanjutnya disebut dengan istilah Nutrisionis Registered , Ketiga ialah Lulusan Diploma 4 gizi dan S-1 gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi serta lulus uji kompetensi dan memiliki STR yang selanjutnya disebut dengan istilah Registered Dietisien.

Pertanyaannya kemudian ialah bagaimana dengan lulusan Diploma 3 gizi, Diploma 4 Gizi dan sarjana gizi yang tidak atau belum lulus uji kompetensi dan tidak memiliki STR? Apakah mereka masuk sebagai anggota biasa atau luar biasa?.

Menurut saya, ini menurut saya loh ya……. Mereka masuk sebagai anggota luar biasa, karena mengikuti pengertian tenaga gizi pada Permenkes tersebut di atas. Setelah mereka memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, keanggotaan mereka bisa berubah mejadi anggota biasa.

Perhimpunan

ART PERSAGI juga mengatur tentang perhimpunan, salah satu contoh perhimpunan yang sudah ada saat ini ialah Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI). Perhimpunan tersebut dibentuk dan dilantik oleh PERSAGI, sehingga kedepan aktivitas AsDI mulai dari tingkat pusat hingga daerah harus berkoordinasi dengan PERSAGI setempat.

Beberapa peserta sidang mempertanyakan, bagaimana jika anggota meminta untuk membentuk perhimpunan baru seperti Asosiasi Nutrisionis Indonesia (AsNI)?. Kesepakatan sidang ketika itu ialah kita serahkan ke DPP PERSAGI, yang jelas AD & ART memungkinkan membentuk perhimpunan selain AsDI.

Menurut saya, Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI) sebenarnya bisa masuk dalam pasal ini, sehingga kita bisa saling bersinergi dalam mengembangkan profesi gizi di Indonesia.

Sekitar pukul 18.00 WIB, pembahasan AD & ART PERSAGI ditutup yang selanjutnya akan dibawa ke sidang pleno untuk didiskusikan dan ditetapkan. Kita tunggu saja hasil akhirnya, semoga AD & ART yang baru ini bisa mengakomodir semua kepentingan ahli gizi di Indonesia. Karena saya tidak mengikuti sidang pleno penetapan AD & ART tersebut, heheheheh……..

Salam sehat

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*