Yazid dan Uang Jajan

 

12670764_10205989493443923_1953863284837034261_n

Sepertinya Yazid (6 tahun) sudah mulai terpengaruh dengan kawan-kawan di sekolahnya, karena hampir setiap pulang sekolah ia selalu menyingung soal uang jajan. “Ayah, kapan kakak diberi uang jajan?, kakak mau belanja” ujarnya, “soalnya hampir semua teman-teman kakak membawa uang jajan dari rumah”. Saya kemudian bertanya ke Yazid, berapa besaran uang jajan teman-temannya, “ada lima ribu ada juga dua ribu” sergahnya.

Setelah saya didesak berkali-kali akhirnya saya menyerah, “berapa uang jajan yang kakak mau” tawar saya di suatu siang saat menjemput Yazid dari sekolahnya. “mhhh….bisa dua ribu Ayah?”, jawabnya cepat. “kalau kakak diberi dua ribu, kakak mau beli apa?” balas saya, “kakak mau beli bakso goreng”. “Oke, Ayah akan beri kakak uang jajan dua ribu rupiah tapi Cuma satu kali seminggu, tiap hari Senin saja, bagaimana?” setuju?, “oke mi…” jawabnya.

Yazid sekolah di sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) yang berjarak sekira 5 menit perjalanan menggunakan motor dari tempat tinggal kami. Setiap hari kami memberi bekal makanan lengkap (Nasi dan lauknya) dan air putih. Ia tercatat sebagai siswa baru di sekolah tersebut di tahun ajaran ini.

Di dalam kompleks sekolah terdapat kantin, saya tidak bisa menggambarkan kondisi kantin sekolah tersebut karena belum pernah berkunjung ke sana, akan tetapi berdasarkan informasi dari Yazid, banyak makanan yang di jual di sana, ada Bakso goreng, makanan ringan, permen, dll.

Sebenarnya saya pernah membuat perjanjian tidak tertulis dengan Yazid, ia boleh membawa uang jajan ketika ia duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, akan tetapi godaan dari teman-temannya sepertinya membuat Yazid tidak mampu menahan keinginannya untuk jajan. Hampir setiap hari ia bertanya kapan dia diberi uang jajan.

Sampai suatu hari, saya membekali Yazid dengan uang jajan dua ribu rupiah, saya khawatir Yazid berbuat nekad dengan mengambil uang di atas meja atau di laci meja sembunyi-sembunyi sekedar untuk memenuhi hasrat jajannya. Akan tetapi, perjanjiannya Yazid tidak boleh membeli permen dan makanan/minuman ringan, kalau kue boleh,

Tapi dasar anak-anak, ketika saya menjemput dari sekolahnya, ditangannya sudah ada permen, saya kemudian protes, “nah loh….koq beli permen?” Tanya saya.

“iya Ayah, tadi teman-teman kakak semua beli permen ini (sambil menyodorkan permen di tangannya), jadi Yazid juga beli” balas Yazid.

“Tapikan perjanjiannya bukan permen” balas saya dengan tegas.

“Iya, tapi temannya kakak tidak ada yang beli Bakso, jadi Kakak beli Permen”.

“Ya sudah, kakak kali ini menang”

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*